Ketika Google “Memilih” Presiden: Pelajaran dari Sebuah Eksperimen Iseng Tahun 2009
Menjelang Pemilu Presiden Indonesia tahun 2009, ada satu eksperimen kecil yang cukup lucu sekaligus menarik: bagaimana jika mesin pencari—sebut saja Google—yang menentukan siapa presiden berikutnya? Tentu saja ini hanya gurauan, sebuah percobaan ringan yang muncul dari rasa penasaran tentang popularitas tokoh-tokoh nasional di dunia maya saat itu.
Saat itu, saya mengetik nama beberapa tokoh yang disebut-sebut sebagai calon presiden dan menghitung jumlah hasil pencarian. Hasilnya cukup beragam: ada tokoh yang memperoleh jutaan hasil pencarian, ada yang ratusan ribu. Dan dengan bercanda saya menulis bahwa “Google sudah memilih.”
Jelas sekali bahwa eksperimen tersebut hanyalah hiburan. Namun pengalaman kecil itu memberikan pelajaran menarik yang tetap relevan hingga sekarang: pemilu tidak ditentukan oleh jumlah hasil pencarian, tingkat popularitas, atau seberapa banyak seseorang dibicarakan di internet.
Popularitas Bukan Segalanya
Di era digital, mudah sekali terjebak pada anggapan bahwa siapa yang paling sering muncul di media sosial atau paling banyak diperbincangkan otomatis akan menjadi pemimpin terpilih. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Popularitas di internet seringkali bias, penuh distorsi, bahkan bisa dipengaruhi hal-hal di luar kualitas pribadi seseorang.
Jumlah pencarian di Google, misalnya, bisa dipicu rasa penasaran, berita viral, kontroversi, atau bahkan candaan warganet. Seorang tokoh yang sering dicari belum tentu disukai; bisa jadi justru banyak dicari karena polemik yang mengikutinya.
Karena itu, menjadikan mesin pencari sebagai “penentu presiden” tentu saja hal yang tidak masuk akal—dan memang tidak pernah dimaksudkan begitu. Namun eksperimen itu menunjukkan satu hal: apa yang ramai di dunia maya tidak selalu menggambarkan pilihan masyarakat yang sebenarnya di dunia nyata.
Demokrasi Bukan Hanya Tentang Ramai-Ramaian
Pemilu adalah proses yang jauh lebih dalam daripada sekadar kontes popularitas. Ia melibatkan:
-
pemahaman visi dan program,
-
penilaian terhadap rekam jejak,
-
kemampuan kepemimpinan,
-
integritas pribadi,
-
dan suara hati rakyat yang mempertimbangkan banyak aspek kehidupan.
Jumlah pengikut, jumlah like, jumlah komentar, atau angka-angka digital lainnya tidak bisa menggantikan proses berpikir, menimbang, dan memilih secara bertanggung jawab. Demokrasi bukan sekadar kompetisi siapa paling viral, tetapi tentang siapa yang diyakini mampu membawa kebaikan bagi bangsa.
Melihat Dari Sudut Pandang Lain
Eksperimen Google Search tadi mengajarkan kita untuk sesekali memandang proses pemilihan pemimpin dari sisi yang berbeda. Tidak ada salahnya bercanda atau membuat simulasi iseng, asalkan kita memahami bahwa intinya hanyalah hiburan belaka. Justru dari sudut pandang alternatif seperti ini, kita bisa semakin menyadari bahwa:
-
keseriusan demokrasi tidak boleh disederhanakan,
-
suara rakyat tidak bisa direduksi menjadi angka pencarian,
-
dan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan penentu masa depan suatu bangsa.
Penutup
Pemilu bukan ditentukan oleh mesin pencari, bukan oleh jumlah tagar, dan bukan pula oleh seberapa sering seseorang disebut di internet. Pada akhirnya, yang menentukan adalah warga negara yang menggunakan hak pilihnya dengan kesadaran, tanggung jawab, dan harapan untuk kebaikan bersama.
Eksperimen tahun 2009 itu mungkin hanya gurauan, tetapi pelajarannya tetap relevan: popularitas hanyalah bayangan, sedangkan pilihan rakyat adalah kenyataan.
How about let other angle view to choose our Indonesia Presidents? This morning unintentionally I was doing something funny for me, How about we let Google choose our Indonesian President!?
And here we come the result, (of course this job purpose is a joke, don’t be mad at me)
1 - 100 dari sekitar 4,610,000 hasil telusur untuk megawati soekarnoputri. (0.11 detik)
1 - 100 dari sekitar 2,850,000 hasil telusur untuk amin rais. (0.56 detik)
1 - 100 dari sekitar 2,560,000 hasil telusur untuk susilo bambang yudhoyono. (0.35 detik)
1 - 100 dari sekitar 821,000 hasil telusur untuk hidayat nur wahid. (0.59 detik)
1 - 100 dari sekitar 486,000 hasil telusur untuk presiden wiranto. (0.78 detik)
1 - 100 dari sekitar 379,000 hasil telusur untuk prabowo subianto. (0.35 detik)
1 - 100 dari sekitar 283,000 hasil telusur untuk deddy mizwar. (0.52 detik)
You may try for fun with additional quotes to specify results! Good Luck!

Post a Comment for "Ketika Google “Memilih” Presiden: Pelajaran dari Sebuah Eksperimen Iseng Tahun 2009"